Ludruk, Kesenian Teater Lokal yang Tak Kalah Kerennya dengan Teater Internasional

 

Ludruk merupakan kesenian teater rakyat Jawa Timur yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Di Surabaya, kesenian Ludruk masih tetap bertahan meski hanya dipentaskan oleh beberapa puluh pemain saja. Harga tiket menonton Ludruk sebenarnya cukup murah, Rp 2.500, tetapi jumlah penontonnya semakin lama semakin berkurang, rata-rata 10-15 orang saja pada setiap pementasan. Mendapatkan penghasilan yang rendah membuat para pemain mau tidak mau harus memiliki pekerjaan sampingan.

Hingga saat ini Ludruk bisa bertahan karena lakon-lakon yang dipentaskan sangat aktual dan akrab dengan budaya setempat, seperti berupa legenda, dongeng, kisah sejarah, dan cerita kehidupan sehari-hari yang menggunakan bahasa yang sangat komunikatif, dan tentu saja selalu disertai lawakan yang sangat menghibur.

Pemain Ludruk harus jago berimprovisasi karena setiap pementasan tidak menggunakan naskah. Penampilan mereka biasanya diiringi musik gamelan dan tembang khas jula-juli. Kostum yang dipakai pun menggambarkan kehidupan rakyat sehari-hari. Bahasa pengantarnya bisa berupa bahasa Jawa atau Madura dan dikemas dengan format yang sangat sederhana biar terasa akrab dengan penonton.

Secara umum, struktur pementasan Ludruk terdiri dari: pembukaan yang diisi dengan atraksi tari ngrema, atraksi bedayan yang berupa penampilan beberapa travesti yang berjoget ringan sambil melantunkan kidungan jula-juli, adegan lawak atau dagelan, dan penyajian lakon atau cerita yang merupakan inti dari pementasan.

Pementasan Ludurk biasanya dibagi menjadi beberapa babak dan setiap babak juga dibagi lagi menjadi beberapa adegan. Di sela-sela bagian ini biasanya diisi selingan yang berupa tampilan seorang travesti dengan menyajikan satu tembang jula-juli.

Menurut james L. Peacock seorang peneliti antropologi yang melakukan penelitian pada tahun 1962-1963 mengatakan bahwa pertunjukan-pertunjukan yang disebut dengan ludruk bandan dan ludruk lerok telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit abad XIII di Jawa, namun saksi mata pertama yang menonton pertunjukan yang disebut ludruk itu baru ditemukan secara tertulis pada tahun 1822.

Pertunjukan ludruk dalam tulisan tersebut diceritakan dan dibintangi oleh dua orang yaitu seorang dagelan yang bercerita tentang cerita-cerita lucu dan seorang waria. Periode lerok tumbuh subur pada tahun 1920-1930, setelah masa itu banyak bermunculan ludruk di daerah Jawa Timur.

Istilah ludruk sendiri banyak ditentukan oleh masyarakat yang memecah istilah lerok. Nama lerok dan ludruk terus berdampingan sejak kemunculan sampai tahun 1955, selanjutnya masyarakat dan seniman cenderung memilih ludruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contoh Seni Sastra : Sastra Modern berupa Manga Populer dari Jepang, "Naruto" Karya Masashi Kishimoto

Naruto (ナルト) adalah sebuah serial manga karya Masashi Kishimoto yang diadaptasi menjadi serial anime. Manga Naruto bercerita sep...